Sabtu, 08 Oktober 2022

POTENSI PEMANFAATAN HASIL SAMPING PADI

Padi merupakan komoditas hasil pertanian yang diperoleh dari tanaman padi (Oryza sativa). Padi setelah melalui beberapa proses penanganan dan pengolahan menghasilkan nasi yang merupakan makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia. Produksi padi di Indonesia sepanjang Januari hingga September 2020 diperkirakan sekitar 45,45 juta ton GKG dan jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, maka produksi padi sepanjang Januari hingga September 2020 setara dengan 26,06 juta ton beras (Badan Pusat Statistika, 2020).

Hasil samping dari proses pengolahan padi menjadi beras melalui serangkaian tahapan seperti pengeringan, penyosohan, hingga penggilingan, ternyata memiliki keuntungan-keuntungan yang dapat dimanfaatkan baik secara langsung maupun melalui proses lanjut. Beberapa keuntungan yang posiiif dalam penggunaan hasil samping beras adalah: (i) hasil samping beras banyak mengandung energi yang memiliki peluang untuk dikonversi, (ii) merupakan sumber daya yang terbarukan, selama kita masih memproduksi beras, selama itu pula hasil sampingnya tersedia, (iii) mengurangi masalah limbah yang berhubungan dengan polusi lingkungan, dan (iv) merupakan carbon neutral, tidak ada emisi 60, di atmosfer.

Beberapa peluang pemanfaatan hasil samping beras yang memiliki nilai ekonomi diantaranya:

1. Jerami padi, berfungsi sebagai unsur yang mempertahankan tingkat bahan organik dalam tanah sehingga berpotensi dijadikan bokashi atau pupuk organik. Jerami padi juga digunakan sebagai bahan pakan ternak, sebagai mulsa pada tanaman yang bernilai tinggi (Nelfiyanti et al., 2020).

2. Sekam sebagai sumber bahan bakar yakni briket sekam (Qistina et al., 2016), media tanam, membuat tempat telur, penjernih air, bahan campuran semen.

3. Bran/bekatul sebagai sumber pembuatan minyak, pupuk effective microorganism (pupuk EM) yang diolah melalui proses fermentasi, pakan ternak unggas dan pakan ikan (Ilham, 2015), bahan membuat MPASI, bahan substitusi tepung terigu (Hendrayati, 2019), bahan untuk membuat produk olahan pangan, susu bekatul (Amir et al., 2020).

4. Dedak sebagai sebagai minyak menjadi biobase oil dan bioaditif ramah lingkungan, produk minyak goreng atau bahan aditif pangan (Nelfiyanti et al., 2020), pakan ternak unggas dan sapi perah (Ilham, 2015).

5. Menir berpotensi dijadikan sebagai bahan baku tepung beras dan beras ultra (Wariyah, 2010).

Berikut akan dipaparkan lebih lanjut mengenai pemanfaatan hasil samping padi bekatul di bidang pangan berdasarkan jurnal berjudul “Substitusi Bekatul Pada Pembuatan Biskuit Terhadap Peningkatan Kadar Serat Sebagai Jajanan Tinggi Serat” oleh Hendrayati pada tahun 2019.

Bekatul (rice bran) merupakan hasil samping dari pengolahan padi, bagian terluar dari bagian bulir, termasuk sebagian kecil endosperm berpati (Wulandari et al., 2012). Hasil penggilingan padi akan menghasilkan beras sebesar 60-65% dengan hasil sampingan berupa bekatul sebanyak 8- 12% (Budihartini et al., 2018). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi di Indonesia tahun 2018 sebesar 56,54 juta ton gabah kering giling (GKG) dengan 10% dari total produksi padi dapat menghasilkan bekatul, maka diperkirakan akan dapat menghasilkan 5,65 juta ton bekatul (BPS, 2018)

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa bekatul memiliki nutrisi yang baik seperti : kadar karbohidrat berkisar 48,3-50,7 persen, kadar protein kasar 15,7-17,2 persen, kadar lemak kasar 23,3-24,9 persen, kadar abu 9,2-11,3 persen, dan kadar air 9,61-14,74 persen (Huang et al., 2005) serta komponen bioaktif seperti senyawa fenolik (Devi dan Arumughan, 2007).

Penelitian dalam jurnal “Substitusi Bekatul Pada Pembuatan Biskuit Terhadap Peningkatan Kadar Serat Sebagai Jajanan Tinggi Serat” oleh Hendrayati pada tahun 2019 bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi pasta dalam pembuatan biskuit terhadap peningkatan kadar serat sebagai makanan ringan berserat tinggi. Desain penelitian adalah eksperimen dengan posttest only design group. Analisis serat menggunakan metode serat kasar untuk mengukur kadar serat biskuit dengan konsentrasi 0%, 10%, 20%, dan 30%.

Dalam jurnal dijelaskan bahwa dalam membuat biskuit bekatul menggunakan bahan-bahan antara lain : tepung terigu, bekatul, kuning telur, gula halus, margarine, lemak nabati (room butter), tepung maizena, susu bubuk, baking powder, vanili dan garam. Alat yang digunakan adalah kompor, oven, loyang, wajan, sutil, mixer, cetakan biskuit, gelas ukur, timbangan, baskom dan sendok.

Bekatul yang digunakan adalah bekatul beras putih yang diproleh pada proses penyosohan kedua dari penggilingan beras. Bekatul tersebut dilakukan pengayakan yang kemudian dilakukan penyangaian sekitar ± 15 menit sampai berubah warna menjadi agak kecoklatan guna untuk menghilangkan.

Proses pembuatan biskuit dengan substitusi bekatul ditambahkan setelah semua bahan tercampur rata. Biskuit dipanggang dalam oven dengan suhu ± 150oC dengan waktu selama 15 menit. Perbandingan atau jumlah bekatul yang ditambahkan yaitu dengan konsentrasi 10% (25 gam), 20% (50 gam) dan 30% (75 gam) dari 250 gam tepung terigu. Biskuit bekatul yang dihasilkan berwarna coklat kekuningan, aroma sedikit khas bekatul, tekstur renyah, rasa manis. Biskuit yang dihasilkan memiliki berat 10 g/keping biskuit.

Kesimpulan dari penelitian pada jurnal yakni biskuit substitusi bekatul semakin tinggi konsentrasi bekatul yang ditambahkan maka semakin tinggi kadar serat yang terdapat dalam biskuit dengan berat biskuit 10 g/keping. Kadar serat pada masing-masing biskuit substitusi bekatul dengan konsentrasi 0% yaitu 21,70 g, konsentrasi 10% yaitu 22,07 g, konsentrasi 20% yaitu 23,59 g, konsentrasi 30% yaitu 28,78 g dalam 100 g biskuit substitusi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Amir, Y., Sirajuddin, S., & Syam, A. (2020). Daya Terima Susu Bekatul Sebagai Pangan Fungsional (Preference of Bran Milk as Functional Food). Hasanuddin Journal of Public Health, 1(1), 16–25.

Badan Pusat Statistika. (2020). Statistik Luas Panen dan Produksi Padi. Berita Resmi Statistik, 2(16), 1–12.

Budihartini, N. K. S., Permana, I. D. G. M., & Ina, P. T. (2018). Pengaruh Perbandingan Terigu Dan Bekatul Beras Merah Terhadap Karakteristik Mie Kering. Jurnal Ilmu Dan Teknologi Pangan (ITEPA), 7(4), 156. https://doi.org/10.24843/itepa.2018.v07.i04.p02

Hendrayati, H. (2019). Substitusi Bekatul Pada Pembuatan Biskuit Terhadap Peningkatan Kadar Serat Sebagai Jajanan Tinggi Serat. Media Gizi Pangan, 26(2), 171. https://doi.org/10.32382/mgp.v26i2.1026

Ilham, N. (2015). Ketersediaan Produk Samping Tanaman Dan Industri Pertanian Sebagai Pakan Ternak Mendukung Peningkatan Produksi Daging Nasional. 50 Forum Penelitian Agro Ekonomi, 33(1), 47–61.

Nelfiyanti, Nugrahani, R. A., & Fitriyah, N. H. (2020). Analisis nilai tambah pengolahan dedak padi menjadi defatted dan minyak. JISI: Jurnal Integrasi Sistem Industri, 7(1), 41–47.

Qistina, I., Sukandar, D., & Trilaksono. (2016). Nilai Kalor Briket Tempurung Kemiri Dan Kulit Asam Jawa Dengan Variasi Ukuran Partikel Dan Tekanan Pengepresan. Jurnal Kimia VALENSI: Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Ilmu Kimia, 2(2), 136–142.

Wariyah, C. (2010). Restructured Fine Grain Rice to High Calcium Rice by Extrusion Method. 30(3), 135–140.

Wulandari, P. A., Suter, I. K., Putra, N. K., & Widarta, I. W. R. (2012). Bekatul Beras Merah sebagai Salah Satu Alternatif Sumber Antioksidan. Jurnal Ilmu Dan Teknologi Pangan, 1(1), 1–8.

 

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sistem Pangan dan Gizi di Indonesia


Menurut World Health Organization (2019) Covid-19 adalah virus yang menyebabkan flu biasa hingga penyakit yang lebih parah dari sindrom pernapasan timur tengah (MERS-Cov) dan sindrom pernafasan akut (SARS-CoV). Virus ini ditemukan pertama kali di Wuhan, China yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia tak terkecuali Indonesia. Di berbagai negara Covid-19 telah menelan banyak korban jiwa termasuk di Indonesia. Jumlah pasien positif Covid-19 yang kian hari kian bertambah membuat masyarakat resah ditambah penyebarannya yang cepat. Tidak heran jika pandemi ini berdampak pada kegiatan di berbagai aspek seperti sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan, budaya serta aspek lainnya. Berkaitan dengan sistem pangan dan gizi, virus COVID-19 turut memberikan pengaruh yang besar, mulai dari produksi pangan, distribusi pangan, ketersediaan pangan hingga pada status gizi masyarakat di Indonesia.

Pertama, aktivitas produksi pangan terhambat karena adanya pembatasan beraktivitas di luar rumah, social distancing dan physical distancing. Kegiatan pengembangan budi daya tanaman pangan dan hortikultura menjadi tidak maksimal dan terhambat. Jumlah pekerja di sektor pertanian dan volume produksi menurun akibat kebijakan karantina. Para petani dan peternak pun rata-rata berada di usia yang rentan terhadap virus COVID-19 sehingga harus benar-benar memperhatikan protokol kesehatan yang dianjurkan. Produksi ternak pun berpotensi menurun karena gangguan logistik pakan.

Kedua, COVID-19 berdampak pada distribusi pangan. Pangan tidak tersedia otomatis di meja makan kita, namun melalui rantai distribusi dari produsen ke konsumen. Kini daerah yang berada di zona merah wajib memberlakukan lockdown dan PSBB. Akan sulit untuk memperoleh pupuk dan pestisida karena masalah pengangkutan dan distribusi. Pengangkutan hasil pertanian pun mengalami keterlambatan. Sarana dan prasarana distribusi akan difokuskan untuk mengangkut kebutuhan logistik pangan dan fasilitas kesehatan. Bahkan terkadang masih dijumpai beberapa kasus larangan kendaraan pengangkut logistik pangan yang masuk ke suatu daerah karena alasan PSBB. 

Ketiga, masalah ketersediaan dan akses pangan. Dalam situasi ketidakpastian, salah satu kebutuhan dasar adalah pangan. Pandemi COVID-19 yang belum bisa diprediksi kapan akan berakhir tentunya berdampak pada ketersediaan pangan yang pastinya akan terus berkurang. Apalagi produktivitas pertanian dan industri di sektor pangan menurun akibat ada pembatasan-pembatasan aktivitas di berbagai daerah.

Apabila stok pangan dalam negeri semakin menipis hingga tidak mampu mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri maka impor juga bukan solusi yang menjanjikan. Saat situasi kritis seperti ini, seluruh negara berlomba menjaga ketahanan pangan agar mampu menghadapi pandemi corona yang diperkirakan masih akan panjang. Banyak negara yang menutup pasar ekspor komoditas tertentu untuk memastikan agar kebutuhan dalam negerinya tercukupi. Selain itu, pembatasan fisik akan berdampak pada distribusi antar wilayah, antar provinsi, bahkan antar negara.

Dengan diberlakukannya lockdown, masyarakat akan membuat pilihan sulit tentang makanan, makan jauh dari rumah, dan pengeluaran keseluruhan. Harga bahan pangan juga mengalami kenaikan. Banyak mall, restoran, rumah makan, warung yang tutup atau dibatasi jam operasionalnya. Masyarakat dituntut bisa beradaptasi dan mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri. Masalahnya, dengan adanya PSBB dan stay at home banyak masyarakat terutama pekerja di sektor informal yang kehilangan pekerjaan, menganggur sementara dan jatuh miskin sehingga kesulitan untuk mengakses makanan terutama pangan yang bernutrisi.

Keempat, karena banyak keluarga yang kesulitan mengakses pangan baik dalam hal keamanan, ketersediaan, dan keterjangkauan pangan sehat dan bernutrisi maka akan berdampak pula pada status gizi masyarakat terutama anak-anak. Pandemi COVID-19 yang tak kunjung reda memperbesar risiko stunting atau bayi lahir dengan ukuran tubuh lebih kecil, balita kurus dan anemia pada ibu hamil. Ketiganya merupakan beban malnutrisi yang kini paling sering ditemui. Ada juga keluarga yang menderita kelaparan dengan risiko kematian tinggi.

Nutrisi yang menjadi kunci untuk membangun sistem kekebalan tubuh, perlindungan terhadap penyakit dan infeksi serta mendukung pemulihan justru terabaikan karena terkendalanya biaya untuk membeli makanan bergizi. Padahal di situasi seperti ini nutrisi tubuh sangat penting untuk menjaga kekebalan tubuh. Anak yang penderita gizi kurang memiliki kekebalan tubuh yang lebih rendah dan menjadikannya rawan terhadap berbagai penyakit termasuk COVID-19.

Berikut beberapa solusi dari berbagai dampak dan masalah yang ditimbulkan akibat pandemi COVID-19 terhadap sistem pangan dan gizi di Indonesia saat ini. Pertama, setiap daerah memaksimalkan fungsi penyuluh lapangan di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) untuk terus mengawasi jalannya kegiatan pertanian, intens melakukan pembinaan kepada petani dan peternak untuk terus berproduksi dan bekerja di lapangan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan begitu pula pada industri pengolahan pangan.

Kedua, pemerintah pusat maupun daerah berkoordinasi dengan berbagai elemen untuk memastikan adanya akses transportasi atau distribusi hasil pertanian dan logistik pangan di tengah lockdown dan PSBB. Distribusi perlu diatur untuk mengurangi disparitas harga antar wilayah kalau bisa pemerintah berkolaborasi dengan perusahaan start-up dalam memasarkan produk pertanian dan pangan. Jika mekanisme suplai dan distribusi jelas maka harga komoditas pertanian dan bahan pangan pun akan stabil.

Ketiga, pemerintah harus memastikan ketersediaan pangan dan gizi terhadap kelompok masyarakat miskin, rentan kelaparan dan gizi buruk dan mereka itu harus mendapatkan respon yang sangat cepat dan tepat. Pemerintah pusat diharapkan memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah lewat Satgas Pangan. Pemerintah juga harus memastikan keadaan hasil pertanian lokal sebelum mengeluarkan keputusan impor bahan pangan. Ada baiknya jika masing-masing pemerintah daerah meningkatkan produktivitas pangan lokal daripada impor.

Keempat, perlunya memperkuat program pengentasan kemiskinan seperti program keluarga harapan, dengan memasukkan aspek penyediaan makanan bergizi untuk kaum miskin dan rentan terutama yang berusia lanjut. Tidak cukup hanya memberikan meningkatkan nominal yang diterima kaum miskin, namun memastikan kecukupan gizi mereka adalah hal yang penting selama krisis kesehatan seperti sekarang ini.

Kelima, pemerintah perlu memberi bantuan logistik pangan kepada masyarakat yang paling terdampak COVID-19 serta memastikan bantuan tersebut tepat sasaran yakni diterima oleh masyarakat yang memang pantas dan membutuhkan. Memperkuat akses pangan kaum miskin dan rentan di perkotaan. Pemerintah perlu menggerakkan warung-warung makanan, memberikan stimulus untuk menjadikan mereka outlet bagi akses pangan kaum miskin

Keenam, perhatian terhadap gizi pangan saat ini adalah keharusan. Memperkuat sistem pangan saat ini dengan memastikan bagaimana penyediaan pangan yang bergizi berkontribusi untuk mencegah dampak virus corona, memperkuat imunitas masyarakat sekaligus fondasi penting untuk kekuatan sistem pangan pasca krisis.

Selain pemerintah, masyarakat juga bisa saling membantu mengatasi permasalahan sistem pangan dan gizi di masa pandemi COVID-19. Akademisi dapat memberikan rekomendasi kebijakan berbasis bukti sementara itu, dunia usaha mendukung perkembangan UKM dalam mengembangkan pangan lokal, memberikan paket makanan dan mencegah lonjakan harga.

 Masyarakat dapat membentuk gerakan kemanusiaan dan aksi peduli untuk memberikan bantuan kepada keluarga terdampak. Bantuan yang diberikan sebaiknya bukan berbentuk uang tunai tetapi dalam bentuk voucher belanja atau paket bundling bahan pangan-sembako. Nutrisi dan gizi bahan pangan yang disumbangkan juga sebaiknya dipertimbangkan. Lebih baik berbentuk sayuran, buah, kacang-kacangan, beras, sarden, tempe, dan makanan bergizi lainnya daripada mie instan dan susu kental manis. Dengan begitu bantuan tersebut dapat mengurangi kasus stunting dan kekurangan gizi terutama pada anak-anak.

Terakhir, pemerintah sebaiknya tetap memperhatikan pemenuhan hak anak-anak terkait gizi buruk supaya mereka tidak mudah terjangkit COVID-19. Pemerintah dapat berkoordinasi dengan elemen lain dalam mengedukasi masyarakat terkait kesehatan dan gizi selama pandemi COVID-19 dengan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Masyarakat perlu meningkatkan literasi gizi, menjaga asupan gizi dan tetap menerapkan protokol kesehatan yang dianjurkan.

 

Jumat, 07 Oktober 2022

Resensi Buku : Definisi dan Contohnya

Halo, sobat! Pada kesempatan kali ini aku mau sharing tentang apa itu resensi buku dan contohnya. Resensi buku ini biasanya dibahas pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP maupun SMA. Dulu ketika aku masih SMA Kelas 10 juga diberi tugas bikin resensi buku setiap minggu. Nah, simak penjelasan berikut ini yah.

Definisi Resensi

Resensi berasal dari bahasa latin yakni revidere atau recensere yang artinya melihat kembali.Menurt     Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima, resensi merupakan pertimbangan atau pembicaraan terntang buku, ulasan buku. Berdasarkan Buku Bahasa Indonesia 2 SMA Kelas XI resensi buku didefinisikan sebagai hasil dari kegiatan mempelajari dan menganalisis isi buku yang bertujuan untuk mengetahui kelebihan serta kekurangan sebuah buku. Jenis buku yang dapat diresensi bisa buku fiksi maupun non fiksi. Manfaat adanya resensi bagi penulis ialah sebagai bahan evaluasi dan perbaikan karyanya. Sementara untuk pembaca, resensi dapat membantu menentukan keputusan pembaca apakah buku tersebut perlu dibaca atau tidak.

Contoh Resensi Buku

Berikut ini adalah contoh resensi buku.

Judul buku : Pesantren Impian

Pengarang : Asma Nadia

Penerbit      : Asma Nadia Publishing

Kota terbit : Depok

Tahun terbit : Cetakan pertama, Juli 2014

Jumlah halaman : 314 halaman

ISBN : 978-602-9055-29-0

ISI RESENSI :

    Novel ini mengisahkan tentang lima belas remaja putra dan putri, dengan masa lalu kelam menerima undangan misterius untuk tinggal di Pesantren Impian. Pesantren Impian adalah sebuah tempat rehabilitasi di sebuah pulau yang tak tercantum di peta. Semua  yang diundang kebanyakan adalah orang-orang yang memiliki masalah. Tragedi Rini yang diperkosa oleh pria misterius sampai akhirnya berusaha menghilangkan nyawanya. Si Gadis yang menjadi buronan polisi karena melakukan pembunuhan. Santri lainnya yang memiliki masalah yang beragam. Pesantren Impian menjadi jalan tengah bagi para santrinya agar dapat  berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

    Sampai suatu hari sebuah pembunuhan yang misterius menimpa salah satu santriwati bernama Yanti. Takut dan cemas dirasakan oleh para santri. Sampai pada akhirnya pelaku dapat terungkap, Paklik Kusno, paman Rini yang sudah memerkosa Rini, ia berusaha membunuh Rini namun ternyata salah sasaran. Komplotan Anton King yang mengincar Butet, mantan anak buahnya yang kabur dan membawa obat terlarang. Butet berhasil lolos dari upaya penculikan dan pembunuhan karena diselamatkan oleh Eni, seorang polisi yang menyamar. Ia berusaha mencari pelaku pembunuhan di Tiara Hotel. Setelah kasus selesai kehidupan di pesantren kembali normal. Si Gadis berhasil mengambil hati Umar, pemilik Pesantren Impian yang bertukar posisi dengan Teungku Budiman dan menjadi pengacaranya. Umar dan si Gadis akhirnya menikah dan hidup bahagia.

     Novel yang bertema cinta, teka-teki, dan kematian ini mengambil latar tempat di pesantren, tentunya sangat menarik untuk dibaca. Bukan hanya untuk umat muslim saja namun juga umat non muslim juga boleh membaca novel ini, karena nilai – nilai yang dapat dipetik bukan hanya nilai agama saja. Seperti yang kita tahu pesantren adalah tempat bagi orang-orang yang bertekad ingin menjadi pribadi yang lebih baik, baik dari segi agama maupun kepribadian atau karakter. Perbedaan Pesantren Impian dengan pesantren yang lainnya adalah orang-orang yang masuk ke dalam pesantren ini adalah orang-orang yang bisa dibilang punya masa lalu kelam. Dalam penyampaian cerita, penulis menyampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh pembaca. Kisahnya yang seru membuat pembaca tidak bisa berhenti membaca karena lembar demi lembar terasa penuh dengan rasa penasaran akan kelanjutan kisahnya.

    Selain di Pesantren Impian yang berlokasi di Aceh, latar tempat dalam novel ini juga mengambil setting di beberapa daerah di Indonesia yang menjadi asal atau tempat tinggal dari para santri. Contohnya di awal cerita latar tempat berada di Tiara Hotel, salah satu hotel di Medan, tempat di mana si Gadis melakukan kejahatannya. Kemudian di Rumah Sakit Darmo di Surabaya, tempat di mana Rini dirawat setelah berusaha bunuh diri. Kemudian di Bintaro, Jakarta, tempat di mana Sissy tinggal bersama Inong. Yang terakhir adalah Pulau Lhok Jeumpa, Aceh, tempat di mana semua orang itu bertemu yaitu di Pesantren Impian.

    Selain tokoh – tokoh yang disebutkan di atas, ada beberapa tokoh lain yang juga penting dalam kisah novel ini. Pertama, Teungku Budiman pemilik pesantren yang sangat dermawan dan bijaksana. Kemudian Umar, pengacara Teungku Budiman sekaligus orang kepercayaan dan yang paling dekat dengan Teungku Budiman. Selanjutnya Eni, seorang polisi yang menyamar dan mempunyai tugas untuk menemukan orang yang sudah membunuh seorang laki-laki di hotel Tiara. Paklik Kusno, tersangka pemerkosaan Rini, yang benar-benar tidak diduga oleh Rini. Kemudian ada Mas Bagus, laki-laki yang mencintai Rini dan berhasil menyelamatkan Rini ketika hendak dihabisi oleh Paklik Kusno, lalu yang terakhir yang juga tokoh yang cukup penting adalah komplotan Anton King. Selain Paklik Kusno, mereka jugalah yang menjadi sebab dari kekisruhan di Pesantren Impian.

    Amanat yang ingin disampaikan dalam novel ini, mungkin bisa dilihat dari masalah-masalah yang terjadi pada setiap tokoh. Kebanyakan dari mereka melakukan kesalahan-kesalahan yang baik itu disengaja atau tidak dan itu merugikan diri mereka sendiri. Jadi, amanat yang ingin disampaikan yaitu jangan habiskan masa mudamu untuk sesuatu yang tidak berguna dan dapat merusak masa depanmu. Selagi masih diberi kesempatan untuk berubah, maka manfaatkanlah kesempatan itu karena Tuhan selalu membuka pintu taubat bagi setiap umatnya. Hidayah itu bukan ditunggu datangnya namun untuk mendapatkan hidayah kita harus menjemputnya, jangan sampai pada akhirnya hanya penyesalan yang didapat.

    Novel yang berjudul Pesantren Impian ini sangat mengasyikkan, hal ini dikarenakan sang penulis sangat rapi menyimpan identitas tokohnya, hingga lembaran terakhir. Itulah yang menyebabkan pembaca selalu penasaran saat membuka lembar demi lembar halaman. Dari segi alur cerita dan gaya bahasa, Pesantren Impian memang membuat pembaca tak bisa melepaskan buku ini hingga halaman terakhir. Rasanya ingin terus membuka halaman selanjutnya, mengetahui apa yang terjadi berikutnya, dan bagaimana akhirnya.

    Kekurangan juga di miliki novel ini. Salah satunya adalah pengeditan. Ada beberapa kata yang salah ketik, seperti kata ngeri, tertulis jeri. Selain itu, bab-bab terakhir tepatnya setelah upaya pembunuhan Rini gagal, penceritaannya begitu hambar. Penggambaran bagaimana kecemasan Umar yang mengharapkan si gadis kembali ke pesantren serta kecemasan si gadis untuk segera pulang menemui anak-anak asuhnya terasa datar. Jika di akhir-akhir cerita dibubuhi sedikit klimaks, pasti ending cerita novel ini akan lebih berkesan. Kemudian, akhir dari penyembunyian identitas umar, bagaimana nasib Rini dan anaknya setelah selamat ditolong oleh Umar pun tidak terselesaikan di sini.

Demikian penjelasan tentang resensi buku dan contohnya. Jadi kalau sobat sekalian ingin membeli buku, bisa liat dulu resensinya. Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa kalian pahami. Kalau ada pertanyaan atau kritik saran sampaikan aja ya temen-temen. Makasih banyak

Referensi

 Sutarni, S. & Sukardi. 2008. Buku Bahasa Indonesia 2 SMA Kelas XI. Bogor: Quadra.

Tim Penyusun. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kelima



Aplikasi Konsep Kimia Konfigurasi Elektron di Bidang Pangan

POTENSI PEMANFAATAN HASIL SAMPING PADI

Gambar :  Rice Field Paddy - Free photo on Pixabay Padi merupakan komoditas hasil pertanian yang diperoleh dari tanaman padi ( Oryza sativa ...