Padi merupakan komoditas hasil pertanian yang diperoleh dari tanaman padi (Oryza sativa). Padi setelah melalui beberapa proses penanganan dan pengolahan menghasilkan nasi yang merupakan makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia. Produksi padi di Indonesia sepanjang Januari hingga September 2020 diperkirakan sekitar 45,45 juta ton GKG dan jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, maka produksi padi sepanjang Januari hingga September 2020 setara dengan 26,06 juta ton beras (Badan Pusat Statistika, 2020).
Hasil samping dari proses pengolahan padi menjadi beras melalui serangkaian tahapan seperti pengeringan, penyosohan, hingga penggilingan, ternyata memiliki keuntungan-keuntungan yang dapat dimanfaatkan baik secara langsung maupun melalui proses lanjut. Beberapa keuntungan yang posiiif dalam penggunaan hasil samping beras adalah: (i) hasil samping beras banyak mengandung energi yang memiliki peluang untuk dikonversi, (ii) merupakan sumber daya yang terbarukan, selama kita masih memproduksi beras, selama itu pula hasil sampingnya tersedia, (iii) mengurangi masalah limbah yang berhubungan dengan polusi lingkungan, dan (iv) merupakan carbon neutral, tidak ada emisi 60, di atmosfer.
Beberapa peluang pemanfaatan hasil samping beras yang memiliki nilai ekonomi diantaranya:
1. Jerami padi, berfungsi sebagai unsur yang mempertahankan tingkat bahan organik dalam tanah sehingga berpotensi dijadikan bokashi atau pupuk organik. Jerami padi juga digunakan sebagai bahan pakan ternak, sebagai mulsa pada tanaman yang bernilai tinggi (Nelfiyanti et al., 2020).
2. Sekam sebagai sumber bahan bakar yakni briket sekam (Qistina et al., 2016), media tanam, membuat tempat telur, penjernih air, bahan campuran semen.
3. Bran/bekatul sebagai sumber pembuatan minyak, pupuk effective microorganism (pupuk EM) yang diolah melalui proses fermentasi, pakan ternak unggas dan pakan ikan (Ilham, 2015), bahan membuat MPASI, bahan substitusi tepung terigu (Hendrayati, 2019), bahan untuk membuat produk olahan pangan, susu bekatul (Amir et al., 2020).
4. Dedak sebagai sebagai minyak menjadi biobase oil dan bioaditif ramah lingkungan, produk minyak goreng atau bahan aditif pangan (Nelfiyanti et al., 2020), pakan ternak unggas dan sapi perah (Ilham, 2015).
5. Menir berpotensi dijadikan sebagai bahan baku tepung beras dan beras ultra (Wariyah, 2010).
Berikut akan dipaparkan lebih lanjut mengenai pemanfaatan hasil samping padi bekatul di bidang pangan berdasarkan jurnal berjudul “Substitusi Bekatul Pada Pembuatan Biskuit Terhadap Peningkatan Kadar Serat Sebagai Jajanan Tinggi Serat” oleh Hendrayati pada tahun 2019.
Bekatul (rice bran) merupakan hasil samping dari pengolahan padi, bagian terluar dari bagian bulir, termasuk sebagian kecil endosperm berpati (Wulandari et al., 2012). Hasil penggilingan padi akan menghasilkan beras sebesar 60-65% dengan hasil sampingan berupa bekatul sebanyak 8- 12% (Budihartini et al., 2018). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi di Indonesia tahun 2018 sebesar 56,54 juta ton gabah kering giling (GKG) dengan 10% dari total produksi padi dapat menghasilkan bekatul, maka diperkirakan akan dapat menghasilkan 5,65 juta ton bekatul (BPS, 2018)
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa bekatul memiliki nutrisi yang baik seperti : kadar karbohidrat berkisar 48,3-50,7 persen, kadar protein kasar 15,7-17,2 persen, kadar lemak kasar 23,3-24,9 persen, kadar abu 9,2-11,3 persen, dan kadar air 9,61-14,74 persen (Huang et al., 2005) serta komponen bioaktif seperti senyawa fenolik (Devi dan Arumughan, 2007).
Penelitian dalam jurnal “Substitusi Bekatul Pada Pembuatan Biskuit Terhadap Peningkatan Kadar Serat Sebagai Jajanan Tinggi Serat” oleh Hendrayati pada tahun 2019 bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi pasta dalam pembuatan biskuit terhadap peningkatan kadar serat sebagai makanan ringan berserat tinggi. Desain penelitian adalah eksperimen dengan posttest only design group. Analisis serat menggunakan metode serat kasar untuk mengukur kadar serat biskuit dengan konsentrasi 0%, 10%, 20%, dan 30%.
Dalam jurnal dijelaskan bahwa dalam membuat biskuit bekatul menggunakan bahan-bahan antara lain : tepung terigu, bekatul, kuning telur, gula halus, margarine, lemak nabati (room butter), tepung maizena, susu bubuk, baking powder, vanili dan garam. Alat yang digunakan adalah kompor, oven, loyang, wajan, sutil, mixer, cetakan biskuit, gelas ukur, timbangan, baskom dan sendok.
Bekatul yang digunakan adalah bekatul beras putih yang diproleh pada proses penyosohan kedua dari penggilingan beras. Bekatul tersebut dilakukan pengayakan yang kemudian dilakukan penyangaian sekitar ± 15 menit sampai berubah warna menjadi agak kecoklatan guna untuk menghilangkan.
Proses pembuatan biskuit dengan substitusi bekatul ditambahkan setelah semua bahan tercampur rata. Biskuit dipanggang dalam oven dengan suhu ± 150oC dengan waktu selama 15 menit. Perbandingan atau jumlah bekatul yang ditambahkan yaitu dengan konsentrasi 10% (25 gam), 20% (50 gam) dan 30% (75 gam) dari 250 gam tepung terigu. Biskuit bekatul yang dihasilkan berwarna coklat kekuningan, aroma sedikit khas bekatul, tekstur renyah, rasa manis. Biskuit yang dihasilkan memiliki berat 10 g/keping biskuit.
Kesimpulan dari penelitian pada jurnal yakni biskuit substitusi bekatul semakin tinggi konsentrasi bekatul yang ditambahkan maka semakin tinggi kadar serat yang terdapat dalam biskuit dengan berat biskuit 10 g/keping. Kadar serat pada masing-masing biskuit substitusi bekatul dengan konsentrasi 0% yaitu 21,70 g, konsentrasi 10% yaitu 22,07 g, konsentrasi 20% yaitu 23,59 g, konsentrasi 30% yaitu 28,78 g dalam 100 g biskuit substitusi.
DAFTAR PUSTAKA
Amir, Y., Sirajuddin, S., & Syam, A. (2020). Daya Terima Susu Bekatul Sebagai Pangan Fungsional (Preference of Bran Milk as Functional Food). Hasanuddin Journal of Public Health, 1(1), 16–25.
Badan Pusat Statistika. (2020). Statistik Luas Panen dan Produksi Padi. Berita Resmi Statistik, 2(16), 1–12.
Budihartini, N. K. S., Permana, I. D. G. M., & Ina, P. T. (2018). Pengaruh Perbandingan Terigu Dan Bekatul Beras Merah Terhadap Karakteristik Mie Kering. Jurnal Ilmu Dan Teknologi Pangan (ITEPA), 7(4), 156. https://doi.org/10.24843/itepa.2018.v07.i04.p02
Hendrayati, H. (2019). Substitusi Bekatul Pada Pembuatan Biskuit Terhadap Peningkatan Kadar Serat Sebagai Jajanan Tinggi Serat. Media Gizi Pangan, 26(2), 171. https://doi.org/10.32382/mgp.v26i2.1026
Ilham, N. (2015). Ketersediaan Produk Samping Tanaman Dan Industri Pertanian Sebagai Pakan Ternak Mendukung Peningkatan Produksi Daging Nasional. 50 Forum Penelitian Agro Ekonomi, 33(1), 47–61.
Nelfiyanti, Nugrahani, R. A., & Fitriyah, N. H. (2020). Analisis nilai tambah pengolahan dedak padi menjadi defatted dan minyak. JISI: Jurnal Integrasi Sistem Industri, 7(1), 41–47.
Qistina, I., Sukandar, D., & Trilaksono. (2016). Nilai Kalor Briket Tempurung Kemiri Dan Kulit Asam Jawa Dengan Variasi Ukuran Partikel Dan Tekanan Pengepresan. Jurnal Kimia VALENSI: Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Ilmu Kimia, 2(2), 136–142.
Wariyah, C. (2010). Restructured Fine Grain Rice to High Calcium Rice by Extrusion Method. 30(3), 135–140.
Wulandari, P. A., Suter, I. K., Putra, N. K., & Widarta, I. W. R. (2012). Bekatul Beras Merah sebagai Salah Satu Alternatif Sumber Antioksidan. Jurnal Ilmu Dan Teknologi Pangan, 1(1), 1–8.


